Senin, 31 Agustus 2015

Arti sebuah kebersamaan

Bel berbunyi, tepat pada waktunya. Aku adalah murid pindahan baru dari sekolah SMA bumi persada. Aku pindah ke sini karna aku ikut dengan kakak ku yang sudah bekerja. Orang tua ku sudah bercerai ketika aku umur 6 tahun. Aku ikut dengan ibu ku ketika umur 6 tahun. Saat umurku sudah 16 tahun dan kakak ku sudah bekerja aku ikut dengan kakak ku. Semenjak orang tua ku  memutuskan untuk bercerai aku menjadi pendiam dan hanya belajar di dalam kamar saja. Mungkin orang lain ketika baru bertemu dengan ku akan mengatakan bahwa aku adalah anak mami tapi sebenarnya aku tidak tergantung dengan ibu ku, karna ibu ku selalu saja melarang ku untuk pergi keluar dan bermain bersama teman teman ku. Aku pindah kesekolah SMA bakti husada karna aku senang dengan menggambar. Saat langkah ku menginjakan sekolah ini untuk yang pertama kalinya." Hai, anak baru ya?" Sapa seorang gadis dengan tinggi semampai. "Eh iya, aku lagi cari ruang guru di mana ya?" Sapa ku. "Ayo aku anterin.." kata perempuan tadi. Sambil dia mengantar ku ke ruang guru aku berbincang bincang dengannya."nama gue vina, dari jurusan seni lo mau ngambil jurusan apa?" dengan senyumnya, "nama gue adit, gue juga dari jurusan seni" kata ku sambil memperhatikan sekitar. Saat perjalanan menuju ruang guru tiba - tiba ada segerombolan pemuda berjalan dengan kekonyolan mereka memandangi ku. "Anak baru ya?wahh keren juga lo!" Kata mereka memberi sapaan kepada ku. "Ya, terima kasih"sapa ku kembali. "Apaan sih lo semua, pergi sana!" Kata vina kesal melihat mereka semua. Lalu, mereka pergi begitu saja. "Gue saranin ya mending jangan bergabung sama grup mereka, mereka itu anak anak ga keurus sama orang tua nya karna mereka seneng berantem terus cari gara-gara terus sampai kena skorsing" katanya sambil kesal. "Iya kah?"kata ku heran. "Iya, yang di tengah itu vino ketua grup itu emang sih keren dan baik tapi dia itu udah sering gonta ganti sekolah karna kelakuannya".katanya sambil mengkerutkan dahinya.  "Oh gituh, nah ini dia ruang gurunya makasih ya"ucap ku sambil tersenyum "oke sampe ketemu dikelas ya,dit!"ucapnya. Aku pun membalas dengan senyuman.
Sudah seminggu aku bersekolah di situ, tetapi tetap saja aku hanya ingin sendiri dan tak ingin bergabung dengan teman teman ku untuk berkumpul. Saat perjalanan sekolah aku melihat ada dua orang pemuda berlari kencang seperti di kejar harimau. "Bukannya itu vino sama doni ya?"ucapku dalam hati sambil melihat mereka pergi di hampiri oleh satu temannya lagi dengan menggunakan motor. Tepukan tangan seseorang ke bahu ku membuat ku kaget"hoi, ngapain bengong?udah ayo ga usah di liatin entar terlambat sekolah" ucap vina. "Eh iya" ucapku sambil berjalan menuju sekolah. Bel pulang sekolah pun berbunyi aku pun bergegas pulang. "Mau ikut ga?, kita mau pergi ke kafe" ucap vina. "Tidak, terima kasih mungkin lain kali aja" ucapku dengan memberika senyumanku yang paling manis. "Ah ga seru lu, iyaudah gue pergi dulu ya"ucap vina sambil melambaikan tangannya. Saat perjalanan menuju rumah aku bertemu denga sekelompok grup ya, itu grup vino sedang asik bermain bola."hei anak baru, sini gabung sama kita kita main bola" ucap vino berteriak. "Tidak terima kasih" ucapk ku sambil memandangi mereka dengan tersenyum. Lalu dua orang teman mereka menghampiri ku manarik ku untuk bergabung."ga usah takut, kita cuman mau ngajak main kok" dengan ucapnya ramah, "oh iya, kenalin nih namanya adit anak baru pindahan" ucap vino memperkenalkan ku dengan teman temannya."gue erik","henry","dimas","doni, oh iya lu waktu itu ngeliat gue sama vino ya kan pas kita lagi lari lari di kejar gerombolannya hengki?", "hmm, oh iya"ucap ku sambil mengingat kejadian itu. "Kami ga nyari masalah kok, cuman mereka aja yang nyari masalah"kata doni kesal. "Udah ga usah di bahas biarin aja, mau ikut main bola?"ucap vino kepada ku. "Tidak, hmm aku sudah lupa cara bermain bola"ucap ku dengan malu malu. Aku sudah lama tidak bermain bola ya karna ibu ku hanya menyuruhku belajar dan belajar saja makanya aku pergi tinggal bersama kakakku. "Ah lu, laki laki atau banci sih?"kata henry sambil tertawa menepuk pundak ku. "Aku menonton saja"ucap ku, mereka pun bermain dengan asyiknya dengan aku menatapnya dengan senyum. Sesaat mereka sedang bermain dengan senang tiba-tiba mereka di kejutkan dengan segerombolan pemuda yang gagah dengan baju sekolahnya. Lalu mereka berhenti memainkannya dengan melihat langkah pemuda itu datang."hei, ini wilayah main kami kalian ga boleh bermain disini karna ini milik kami!"ucap seorang pemuda. "Kenapa tidak boleh?ini daerah untuk semua kalangan dan siapa saja boleh bermain disini?!"ucap dimas kesal. "Lo bisa denger ga sih ini wilayah kami!kalian semua dilarang bermain disini!"ucap pemudah itu lantang. "Apakah disana ada tulisan hanyak untuk kalian?tidak kan?"ucap henry mengejek. "Hei kalian jangan belagu ya disini, kalo disuruh pergi ya pergi!" Ucap seorang pemuda dengan tangan ingin menghajar henry. "Sudah, sudah, bagaimana kalo kita beradu bola saja, yang menang boleh main disini dan yang kalah engga boleh bermain disini"ucap vino sabar. "Baiklah"ucap pemuda itu. Aku pun hanya melihat mereka bertanding bola dengan tatapan tajam aku pun memperhatikan mereka sambil berkata "ternyata mereka baik juga, mau menyelesaikan suatu perkara dengan tenang tanpa saling melukai satu sama lain" ucapku menatap ke arah mereka. Akhirnya mereka pun selesai dengan pertandingan bola dan yang berhasil menguasainya adalah kelompok vino. Dengan rasa gembira mereka bersorak sorak senang. Lalu pemuda pemuda itu meninggalkan mereka dengan kesal. Lalu kami pun berjalan pulang bersama.

Keesokan harinya, "hei kami boleh gabung disini?"ucap vino. Aku pun mengangguk. Hari demi hari ku lalui, sekarang aku menjadi bagian dari mereka semua. Mungkin dari pandangan orang mereka adalah segerombolan anak anak yang nakal namun mereka semua salah, mereka hanya membantu teman temannya jika mereka akan di ganggu oleh segerombolan orang orang yang tak suka dengan kita. Vino adalah seorang pemuda yang kaya, baik, dan tampan tapi sayang orang tuanya hanya sibuk dengan pekerjaan mereka. Orang tuanya tidak peduli dengan vino yang begajulan atau sering pidah sekolah karna drop out dari sekolah. Tetapi vino tetap menjadi pemuda yang baik dan rendah hati. Hari demi hari kami lalui, sesaat kami sedang bercanda bersama datang segerombolan pemuda dengan muka yang sangar. Ternyata itu adalah pemuda yang waktu itu kita jumpai karna persoalan lapangan, mereka masih menyimpan dendam dengan kami. Lalu disitu terjadi perkelahian antara dua segerombolan. Aku yang tak bisa berkelahi hanya melihat mereka dipukul dengan bercucuran darah, saat aku melihat mereka dengan mata melotot aku melihat vino dari arah belakang akan di pukul. Dengan langkah ku, ku beranikan diri untuk memukulnya dengan kayu panjang yang ada di sampangin ku. Hampir saja vino terkena pukulan. Kejadian itu pun telah usai. Sekarang aku mengerti mengapa mereka sering melukai orang. Karna merek hanya ingin melindungi satu sama lain, saling menjaga dan mengasihi. Tidak peduli apa kata orang tua mereka ataupun orang lain. Tak memandang fisik atau pun kekurangan lainnya. Tak peduli sekaya apa pun semampu apa pun kamu. Jika itu untuk kebaikan dan demi orang yang kita sayangi kenapa tidak?..

Sekian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar